Cara pandang yang kurang tepat juga berakibat fatal pada pembangunan nasional. belum adanya konsep yang baik tentang pembangunan wilayah perairan Indonesia membuat lautan dan selat-selat menjadi tidak termanfaatkan secara maksimal. bahwa potensi kelautan dan perikanan Indonesia sungguhlah menjanjikan akan pemenuhan kebutuhan hidup seluruh bangsa sudah kita ketahui bersama. namun pembangunan tetap berkonsentrasi di pulau-pulau, dengan luas tanah yang senantiasa tetap namun kebutuhan akan luasannya senantiasa meningkat. sehingga yang ada hanyalah intensifikasi lahan secara terus menerus, tanpa kita berpikir bahwa generasi berikutnya akan membutuhkan luasan yang lebih dari yang kita manfaatkan saat ini. perumahan dan perkantoran semakin menjulang tinggi, sementara lahan pertanian semakin menyempit, tergerus kebutuhan akan tanah yang semakin besar. di satu sisi, potensi laut kita teronggok begitu saja, mati bersama anggapan bahwa kehadirannya hanyalah sebagai pemisah antar pulau.
Marilah kita belajar kepada sebuah negeri yang pernah berkuasa di tanah kita, Belanda. luas tanah yang sempit di negaranya, tidak menjadikan mereka membangun kearah atas, namun memikirkan cara perluasan lahan tanpa mengganggu kedaulatan bangsa lain. langkah Belanda di Eropa patut dicontoh, tidak seperti konsep reklamasi Singapura yang jelas-jelas memicu konflik di semenanjung Malaya. Rakyat Belanda terbentur dengan segala keterbatasan luas wilayah tanah, namun pemikiran mereka tidak tinggal diam. maka jadilah konsep bendungan dam lengkap dengan kincir angin pemompa air laut yang menjadi sebuah trade mark negeri tersebut. Siapapun tidak akan kagum akan konsep yang ekstrim tersebut, sebelum Belanda dengan sukses menjalankannya. Pembangunan bendungan di perairan dangkal, pemompaan air laut keluar dari bendungan, dan pembangunan wilayah di bekas perairan dangkal tersebut. sungguh tidak terpikirkan oleh otak-otak yang berpikir linear. hanya dengan kreatifitas dan pemikiran yang akurat akhirnya luas wilayah Belanda bertambah dengan mulus.
Konsep radikal sebenarnya bisa kita terapkan di negara kita Indonesia. konsep rumah diatas air sudah bisa diterapkan, dengan memperhitungkan potensi gelombang dan psang surut air laut. kesilitan hanya akan muncul jika rumah apung berdiri sendiri, namun akan teratasi jika terbentuk suatu komunitas masyarakat. kebutuhan hidup akan tercukupi, seperti konsep yang dikemukakan arsitek belgia Vincent Callebaut tentang konsep kota amfibi yang berbentuk daun dengan kapasitas tampung 50.000 orang. sumber energi surya, angin dan arus laut menjadikan kota ini mandiri, tidak bergantung dengan sumber daya konvensional. memang konsep ini sangat futuristik dan terasa jauh dengan teknologi yang kita punyai, namun kita mempunyai masyarakat yang mampu hidup di atas air di Kalimantan. mereka hidup dengan normal seperti kita yang ada di daratan, hanya berbeda transportasi yang digunakan adalah transportasi air. dengan perencanaan dan pertimbangan yang matang, tidak salah rasanya jika nantinya ada konsep percontohan perumahan apung di Indonesia, dan akan diteruskan dengan perumahan-perumahan abung berikutnya. dengan kapasitas setara dengan satu kelurahan di darat, maka impian akan ekstensifikasi lahan akan semakin nyata. sebuah warisan yang kelak akan dibanggakan oleh anak cucu kita, Indonesia yang terkenal akan pemanfaatan wilayah perairan terbaik di dunia.
konsep arsitek Belgia
rumah apung di Kalimatan


Tidak ada komentar:
Posting Komentar